Langsung ke konten utama

REFLEKSI DIRI; 75 TAHUN INDONESIA MERDEKA

Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini sangat berbeda dengan tahun sebelumnya, dimana dunia masih dibayangi pandemi covid-19, lantas bagaimana cara untuk mensyukuri kemerdekaan saat ini, sebagai generasi penerus, apa yang telah dilakukan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia? Apakah langkah yang diambil dapat mendatangkan manfaat atau justru sebaliknya yang dapat mengancam keutuhan bangsa. 

Terlahir sebagai orang Indonesia merupakan takdir dari Allah swt, sebagaimana tercantum dalam Al Qur'an Surat Al Hujurat ayat 13 :

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Nikmat kemerdekaan saat ini bukanlah pemberian atau hadiah dari negara lain, bukan pula karena belas kasih dari para penjajah, tetapi adalah buah dari perjuangan para pahlawan yang telah gigih untuk melakukan perlawanan, serta yang paling penting adalah berkat rahmat dari Allah swt, sebagaimana tercantum dalam teks pembukaan Undang undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. 

Banyak diceritakan dalam buku sejarah, bagaimana para pejuang yang telah gagah berani memasang badan mengorbankan nyawanya hanya bermodalkan bambu runcing tidak lain karena keinginan untuk terbebas dari penjajahan. Banyak yang rela harus meninggalkan orang yang dikasihi, anak-anaknya, keluarganya untuk bertempur di medan perang hanya untuk merasakan kehidupan tanpa ada tendensi dari negara lain. 

Sebagai seorang muslim, cara terbaik untuk mensyukuri nikmat kemerdekaan adalah dengan tidak menggunakannya untuk melakukan kemaksiatan kepada Allah. Melakukan hal yang baik, beribadah dan berdoa, serta berbuat baik kepada orang lain merupakan aksi untuk mensyukuri nikmat kemerdekaan.

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (سورة إبراهيم: ٧)

“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian. Tetapi jika kalian mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat” (QS. Ibrahim: 7).

Nikmat yang dapat dirasakan dari kemerdekaan ialah bagaimana dapat melaksanakan ibadah dengan nyaman leluasa, dapat melaksanakan aktivitas belajar, bekerja dan hidup berdampingan dengan tenang dan damai. 

Peran Ulama NU di bawah komando Rais Akbar KH Hasyim Asy'ari bersama para ulama NU yang lain menggerakkan dan membangkitkan sifat nasionalis pada seluruh elemen masyarakat yang dimulai dari para kiai dan santri. Salah satunya yang dilakukannya adalah saat menerima utusan presiden Soekarno berkaitan hukum membela dan mempertahankan bangsa dan negara bagi warga oleh penjajah. KH Hasyim Asy'ari pun mengatakan wajib 'ain tanpa pengecualian untuk mempertahankannya. Mulai saat itulah dia mengeluarkan fatwa jargon hubbul wathon minal iman (cinta tanah air sebagian daripada iman).¹

Tanamkan rasa cinta terhadap tanah air, gaungkan rasa bangga menjadi warga negara Indonesia kepada anak cucu, agar mereka tetap dapat merasakan nikmat kemerdekaan. Ajarkan kepadanya untuk ikut melestarikan dan merawat kemerdekaan, jangan sampai Allah mencabut nikmat tersebut karena kita lalai. Jangan lelah untuk melawan mereka yang berusaha merongrong kedaulatan negara, yang akan merusak persatuan dan kesatuan bangsa. 

Semoga para pahlawan yang telah berkorban untuk kemerdekaan Indonesia senantiasa diberi tempat yang terbaik oleh Allah swt. 

Sekali Merdeka Tetap Merdeka!

Dirgahayu Republik Indonesia

Wallahu a'lam. 


1 Sumber : https://www.nu.or.id/post/read/76064/hubbul-wathon-minal-iman-jargon-pertahankan-nkri



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merajut Tali Silaturahmi

Oleh : Much Yulianto Sidik Sudah diketahui bersama bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, makhluk yang hidupnya membutuhkan bantuan dari orang lain, makan, minum, kerja, bahkan sampai tidur pun membutuhkan orang lain. Sebagai contoh nasi, dari mulai gabah sampai menjadi nasi yang dimakan membutuhkan proses yang panjang, dan semua proses membutuhkan bantuan orang lain. "Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS. An Nisaa :1) Salah satu bentuk hubungan timbal balik adalah dengan menjalin silaturahmi, dengan adanya silaturahmi orang-orang yang awalnya tidak saling kenal bisa saling ken...

Sesama Muslim Jangan Saling Menghujat

Oleh : Much Yulianto Sidik Akhir-akhir ini di media sosial banyak muslim yang telah jauh meninggalkan nilai-nilai ukhuwah dengan menghujat umat muslim lainnya, baik secara perorangan maupun berkelompok, sangat tidak pantas apabila ada orang yang mengaku dirinya seorang mukmin tetapi mengabaikan ajaran ukhuwah.  Agama mengajarkan bahwa tidak boleh berprasangka buruk, jangan pula menjadi manusia yang gemar menghujat dan mencaci maki, berkata tidak baik dan kasar. Manusia diciptakan berbeda dengan makhluk lainnya, manusia dikaruniai akal pikiran agar dapat berbuat baik dan berbudi pekerti luhur, bertutur kata yang baik mengedepankan sopan santun.  Melakukan kritik terhadap orang lain boleh saja, akan tetapi harus dengan mengedepankan nilai-nilai ukhuwah bukan dengan emosi, dengan bahasa yang halus serta tanpa mengurangi kebebasan, keberanian dan daya kritis, sehingga terasa damai bagi orang yang mendengarkan.   Allah swt berfirman yang artinya : "..dan berbicaralah kepa...

Perbedaan Adalah Rahmat

Oleh : Much Yulianto Sidik Di era sekarang ini masih banyak dijumpai perilaku yang menyinggung perbedaan masalah SARA, kesukuan, ras, golongan bahkan perbedaan agama, tidak sedikit yang dengan sengaja merekam perilakunya tersebut kemudian mengunggahnya ke dunia maya atau media sosial. Sudah menjadi kodrat (sunatullah) manusia diciptakan oleh Allah swt berbeda beda, baik secara fisik maupun psikologis, laki-laki maupun perempuan, termasuk dilahirkan menjadi orang dari suku bangsa mana juga manusia tidak bisa menentukan, dalam Al Qur'an disebutkan : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al Hujurat : 13). Tujuan dari penciptaan manusia yang berbeda tidak lain a...