Langsung ke konten utama

Sesama Muslim Jangan Saling Menghujat

Oleh : Much Yulianto Sidik

Akhir-akhir ini di media sosial banyak muslim yang telah jauh meninggalkan nilai-nilai ukhuwah dengan menghujat umat muslim lainnya, baik secara perorangan maupun berkelompok, sangat tidak pantas apabila ada orang yang mengaku dirinya seorang mukmin tetapi mengabaikan ajaran ukhuwah. 

Agama mengajarkan bahwa tidak boleh berprasangka buruk, jangan pula menjadi manusia yang gemar menghujat dan mencaci maki, berkata tidak baik dan kasar. Manusia diciptakan berbeda dengan makhluk lainnya, manusia dikaruniai akal pikiran agar dapat berbuat baik dan berbudi pekerti luhur, bertutur kata yang baik mengedepankan sopan santun. 

Melakukan kritik terhadap orang lain boleh saja, akan tetapi harus dengan mengedepankan nilai-nilai ukhuwah bukan dengan emosi, dengan bahasa yang halus serta tanpa mengurangi kebebasan, keberanian dan daya kritis, sehingga terasa damai bagi orang yang mendengarkan.  

Allah swt berfirman yang artinya :
"..dan berbicaralah kepada orang-orang dengan baik.." (QS Al-Baqarah: 83) 
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda :
"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam." (HR Bukhari) 

Dari dalil di atas dijelaskan bagaimana sikap pada saat berbicara dengan orang lain harus dengan yang baik, bahkan perkataan yang baik merupakan salah satu tanda seseorang beriman kepada Allah dan hari akhir. 

Lisan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam berinteraksi dengan orang lain, baik buruknya seseorang juga dapat dinilai dari perkataan yang diucapkan, dalam istilah Jawa disebutkan bahwa : Ajining diri soko lathi, Ajining rogo soko busono. 

Hujatan-hujatan yang dilakukan seseorang sebetulnya bisa dikatakan sebagai hilangnya rasa hormat kepada orang lain, ketidak mampuan untuk mengendalikan emosi, dan hilangnya cara berfikir yang logis. 

Banyak orang yang dari segi pendidikan tergolong tinggi, dari segi ekonomi tergolong mampu, dari segi ilmu agama juga mampu, tetapi tidak dapat membedakan mana yang namanya kritik, mana yang menghujat, bahkan yang membuat miris yang dihujat adalah bukan hanya orang biasa, tapi dari presiden, tokoh nasional, bahkan sampai para kyai atau tokoh agama tidak luput dari hujatan. 

Butuh peran dan perhatian dari semua pihak agar situasi semacam ini tidak semakin buruk, bukan hanya sekedar memberikan pemahaman tentang sikap toleransi menghargai pendapat orang lain, tetapi harus ada langkah yang nyata untuk menghentikan aksi hujat menghujat. 

Peran serta tokoh masyarakat, tokoh agama sangat dibutuhkan untuk melakukan upaya pencegahan dan memberikan edukasi kepada masyarakat. 

Tugas seluruh umat untuk menjadikan citra Islam yang rahmatan lil 'alamin, Islam yang ramah bukan Islam yang marah, Islam yang dapat mengayomi, yang membuat aman dan tenteram bukan hanya untuk pemeluknya tetapi untuk umat manusia secara keseluruhan, Islam yang berkontribusi dalam kemajuan peradaban manusia. 

Jadilah manusia yang mampu untuk menjaga lisannya agar dapat mewujudkan hidup nyaman dan bahagia. 

Wallahu a'lam. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merajut Tali Silaturahmi

Oleh : Much Yulianto Sidik Sudah diketahui bersama bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, makhluk yang hidupnya membutuhkan bantuan dari orang lain, makan, minum, kerja, bahkan sampai tidur pun membutuhkan orang lain. Sebagai contoh nasi, dari mulai gabah sampai menjadi nasi yang dimakan membutuhkan proses yang panjang, dan semua proses membutuhkan bantuan orang lain. "Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS. An Nisaa :1) Salah satu bentuk hubungan timbal balik adalah dengan menjalin silaturahmi, dengan adanya silaturahmi orang-orang yang awalnya tidak saling kenal bisa saling ken...

Perbedaan Adalah Rahmat

Oleh : Much Yulianto Sidik Di era sekarang ini masih banyak dijumpai perilaku yang menyinggung perbedaan masalah SARA, kesukuan, ras, golongan bahkan perbedaan agama, tidak sedikit yang dengan sengaja merekam perilakunya tersebut kemudian mengunggahnya ke dunia maya atau media sosial. Sudah menjadi kodrat (sunatullah) manusia diciptakan oleh Allah swt berbeda beda, baik secara fisik maupun psikologis, laki-laki maupun perempuan, termasuk dilahirkan menjadi orang dari suku bangsa mana juga manusia tidak bisa menentukan, dalam Al Qur'an disebutkan : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al Hujurat : 13). Tujuan dari penciptaan manusia yang berbeda tidak lain a...